Rabu, 15 September 2021

Berburu Mani Gajah ke Taman Nasional Tesso Nilo

Berburu Mani Gajah ke Taman Nasional Tesso Nilo

Erwin Daulay, mahout senior di Elephant Flying Squat TNTN menyebutkan sperma atau mani gajah yang jatuh ke tanah itu langsung meresap ke dalam tanah.

Pekanbaru, Swamedium.com-“Titip oleh-oleh mani gajahnya, bro!” “Jangan lupa bawakan mani gajah sebagai oleh-olehnya.”

Banner Iklan Swamedium

Begitulah permintaan kawan-kawan ketika mereka tahu saya mau pergi ke Camp Elephant Flying Squad (EFS/Tim Patroli Gajah) Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan Riau, Sabtu (8-9/8/21) bersama rombongan Tim Ekpedisi Wartawan Peduli Taman Nasional PWI Riau.

Ada apa dengan mani (sperma) gajah? Kenapa tidak minta souvenir yang lain, seperti baju kaos berlogo Flying Squad TNTN, boneka gajah atau gading gajah?

Pertanyaan itu mulai terjawab saat salah seorang teman, Atan, menyebutkan dia mau ikut dengan rombongan kecil PWI Riau, 13 orang – sehari sebelum rombongan besar datang- tidak lain untuk meminta mani gajah itu pada mahout (mahout adalah orang yang mengasuh gajah liar, ada juga yang menyebut dengan pawang gajah).

Atan bercerita, mani gajah ditenggarai banyak ‘khasiatnya’.

Apa sih khasiatnya? Dari cerita orang-orang, mani gajah bisa meningkatkan stamina sex pria, bisa untuk pemikat wanita, dan lainnya.

Wah menarik, nih! Tapi apa betul khasiat mani gajah seperti itu?

“Semuanya itu bohong. Itu hanya mitos,” tegas Erwin Daulay (50), pria asal Gunung Tua, Sumatera Utara. Erwin adalah mahout senior dan Ketua Mahout di Tim Patroli Gajah TNTN.

“Sudah 30 tahun lebih saya jadi mahout, orang-orang selalu membicarakan mani gajah dan mitosnya itu. Malah ada pengunjung yang berani terang-terangan meminta mani gajah ke saya,’ ujar Erwin sambil ketawa.

Dalam mitos mani gajah itu, gajah usai kawin, mani/spermanya itu tercecer ke tanah. Lalu gajah jantan akan menutup mani tadi dengan tanah. Tertimbun oleh tanah, lama kelamaan mani gajah itu mengeras dan menjadi batu. Batu itulah yang kemudian dimitoskan jadi mustika mani gajah.

Kemudian cerita batu mani gajah itu berkembang ke cerita mistik. Batu atau mustika mani gajah tersebut memiliki khasiat batu mani gajah bisa memikat hati atau pengasih, mudah melancarkan jodoh. Memancarkan aura; dengan batu mani gajah, anda mudah diterima oleh siapa pun dan dimana pun, bisa membuka aura ketampanan dan kecantikan.

Batu mani gajah dipercaya dapat mencegah perselingkuhan dengan pasangan sehingga hubungan dengan pasangan semakin baik dan setia. Dengan memiliki batu mani gajah, kharisma si pemakai akan lebih muncul.

Erwin Daulay mendengar cerita mistik itu hanya bisa ketawa. Erwin sendiri tidak tahu bagaimana bisa muncul cerita batu mani gajah dan khasiat mistiknya itu. Sebagai orang yang bertungkus lumus dengan gajah-gajah jinak, mulai dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, hingga kemudian direkrut jadi mahout di Tim Patroli Gajah (EFS) TNTN yang dibentuk WWF Indonesia dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo tahun 2004, dia tidak pernah menemukan batu atau mustika mani gajah.

“Saya pernah menyaksikan gajah betina Flying Squad kawin dengan gajah liar yang berada dalam kawasan TNTN,’ kata Erwin.

Diceritakan, gajah jinak milik Tim Patroli Gajah TNTN pada sore hari selalu dibawa ke dalam hutan yang tidak jauh dari camp. Walau di dalam hutan, gajah jinak tersebut tetap diikat dengan rantai. Rantai yang dipasang lebih panjang dari pada rantai saat berada dalam camp. Tujuannya, agar gajah-gajah itu bebas bergerak.

Pada suatu malam, ketika Erwin sedang melakukan kontrol di tempat gajah jinak itu, Dia melihat seekor gajah jantan liar datang mendekati salah satu dari dua ekor gajah betina milik Tim Patroli Gajah. Ternyata mereka kawin.

Setelah proses perkawinan selesai, gajah jantan itu langsung pergi. Erwin bergegas ke tempat gajah jinak.

“Saya kumpulkan sisa spermanya. Ada sekitar 5 mili liter. Sisa yang lain dan jatuh ke tanah tersebut, tak ada bekas langsung meresap ke dalam,’ tambahnya.

Jadi wajar Erwin heran ada cerita batu mustika mani gajah.

“Bagaimana dia bisa mengkristal atau kemudian berubah ujud jadi batu. Sperma atau mani yang jatuh ke tanah itu langsung hilang tanpa berbekas,” tukuknya. Mani gajah yang diambilnya pun karena dia cepat-cepat datang setelah proses perkawinan selesai. Dia mengambil hanya untuk pembuktian saja.

Makanya Dia berani mengatakan batu mani gajah dan segala pernak-perniknya itu adalah mitos.

Sperma atau mani gajah selalu dicari atau diburu banyak orang. Mahout atau pengasuh gajah di Taman Nasional Teso Nilo menyebutkan mani gajah atau batu mani gajah dengan berbagai khasiatnya itu adalah hoax. (Denni Risman)

Konsumen yang Tertipu

Bagi orang awam, terutama sebagian kaum pria, mendengar cerita khasiat mani gajah atau batu mani gajah itu, tentulah sangat menarik dan ingin mendapatkan. Seperti pesan kawan-kawan saya –tentu saja kawan pria- yang minta dibawakan mani gajah. Dan ada juga yang berani beli dengan harga tinggi untuk mendapatkan itu.

Bayangkan saja, dengan memiliki batu/kristal mani gajah, bisa meningkatkan stamina kejantanan pria, bisa menaklukan hati wanita istilahnya ‘pengasih’

Tapi apa lacur, setelah barang didapat, ternyata tidak ada khasiat sama sekali.

“Dulu waktu saya muda dulu pernah membeli mani gajah itu. Waktu itu tahun 1994. Saya beli dengan harga Rp150.000. Kata si penjual, mani gajah ini asli bisa meningkatkan stamina kelelakian. Untuk pemakaian di rendam sama air, dan kemudian di minum,” kata Kornel Pangabean, salah seorang kawan yang ikut dalam tim Ekpedisi PWI Riau ke TNTN.

Setelah diminum, dan ‘diujicoba’ ternyata tidak ada reaksinya sama sekali.

“Ternyata saya sudah tertipu,” tambah Kornel lagi.

Dia pun kemudian berani mengatakan soal batu atau kristal mani gajah itu yang memiliki khasiat macam-macam itu bohong.

“Sampai sekarang setelah membuktikan itu, saya berani mengatakan khasiat mani gajah itu, hoax!”

Cerita Terus Berkembang dari Pedalaman TNTN dan TNBT

Kantong gajah terbesar di Sumatera berada di Riau. Diperkirakan gajah liar yang berada di Riau ini berkisar 130-150 ekor. Kantong-kantong gajah liar tersebar di dua taman nasional yang berada di bumi melayu Riau. Tujuh kantong berada di TNTN, Teso Utara, Teso Selatan, Balai Raja, Koto Tangah, Giam Siak Kecil, Mahato dan Tahura (Tapung). Dua kantong berada di Taman Nasional Bukit Tigapuluh; Pemayungan dan Serangge.

Di dalam kawasan dua taman nasional ini berdiam suku tradisional; Sakai, Talang Mamak dan Suku Anak Dalam (dulu disebut suku Kubu).

Dari cerita ke cerita dan literasi, ‘kehebatan’ batu atau mustika mani gajah itu ternyata berasal dari pedalaman ini.

Ibarat tambo, cerita yang diceritakan ulang dari mulut ke mulut versi Suku Anak Dalam, asal usul batu mani gajah terjadi saat ada gajah jantan yang mereka berinama Gajah Tunggal kawin. Musim kawinnya berada pada bulan purnama. Setelah kawin, sisa sperma yang tercecer dikubur oleh Gajah Tunggal itu.

Orang-orang dari Suku Anak Dalam yang melihat peristiwa itu, setelah Gajah Tunggal pergi, lalu memeriksa tempat bekas mani gajah yang dipendam. Dalam cerita itu, mereka kaget karena di lokasi menemukan bekas mani gajah yang telah berubah jadi batu. Batu ini kemudian dikenal dengan nama batu mustika mani gajah.

Dari pedalaman Sakai, cerita batu mani gajah ini ada juga versinya. Diceritakan, sperma yang berbentuk cairan kental itu dibawa pulang dan dimasukan dalam tabung. Lalu ada proses jampi-jampi atau diberi ‘kekuatan mistis’. Setelah proses selesai, baru bisa dimanfaatkan.

Cerita dari pedalaman inilah yang terus diceritakan tentang’hebatnya’ mani gajah atau adanya batu mustika mani gajah. Batu mustika mani gajah ini bisa jutaan hingga puluhan juta harganya. Apalagi kalau dibumbui, batu mustika mani gajah ini ditemukan suku pedalaman yang tinggal di kawasan kantong-kantong gajah tersebut.

“Dan semuanya itu, hoax. Tidak ada batu mustika mani gajah tersebut. Sperma yang jatuh ke tanah langsung hilang meresap dalam tanah, bagaimana mungkin ditemukan mani gajah itu mengkristal,” pungkas Erwin lagi.

Pilihan sekarang ada pada anda, percaya dari cerita mulut ke mulut, atau percaya kepada orang yang telah ‘menggembala’ gajah 30 tahun lebih, seperti Erwin Daulay ini. (denni risman)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita