Rabu, 15 September 2021

Kemenangan Taliban Kemenangan Kaum Muslim?

Kemenangan Taliban Kemenangan Kaum Muslim?

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium.com-Setelah 20 tahun menduduki  Afganistan, Joe Bidden, Presiden Amerika Serikat , mantap untuk menarik pasukan militer Amerika Serikat dari Afganistan. Menurut Biden, masyarakat Afganistan harus memutuskan sendiri masa depan mereka sendiri dan Amerika tidak akan menyerahkan generasi mudanya ke dalam peperangan. Biden sangat yakin militer Afganistan memiliki kemampuan untuk mengusir militan Taliban. ( tempo.co, 9/7/2021). 

Biden pun menentukan, 31 Agustus 2021 akan menjadi penarikan gelombang terakhir pasukan militer Amerika Serikat di Afganistan. AS hanya akan menyediakan sekitar 650 pasukan di Afganistan yang bertugas untuk mengamankan kantor kedutaan besar Amerika di Ibu Kota Kabul. AS juga akan memindahkan para penterjemah bahasa ke tempat yang lebih aman.

Biden mengatakan pihaknya sudah lama skeptis dengan penempatan pasukan militer AS di Afganistan selama 20 tahun ini, demikian pula sudah cukup lama mencapai tujuan awalnya, yakni menginvasi Afganistan pada 2001 silam untuk menumpas militan al-Qaeda, melenyapkan pimpinan al-Qaeda, Osama bin Landen dan mencegah mereka melakukan serangan berikutnya ke AS seperti serangan teror pada 11 September 2001.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Ipsos pada April 2021 lalu memperlihatkan sebagian besar masyarakat Amerika Serikat mendukung keputusan Biden menarik pasukan militer negara itu dari Afganistan. Dalam jajak pendapat itu terungkap pula ada sekitar 28 persen responden setuju Amerika Serikat sudah mencapai tujuannya di Afganistan , namun bagi kaum Muslim umumnya apakah ini berarti menjadi kemenangan Islam atas penjajahan di Afghanistan? Lebih spesifik lagi, apakah kemenangan Taliban ini juga merupakan kemenangan kaum Muslim?

Rasanya terlalu prematur jika kita berpendapat demikian, sebelum menggali lebih dalam mengapa AS menyetujui menarik pasukannya dari Afganistan begitu cepat tak seperti yang AS lakukan di Irak, sejak kedua negara bertemu dan diskusi hingga kini AS tak juga menyebutkan kapan tenggat waktu penarikan pasukannya. Pertanyaan lainnya, apa yang membuat Taliban dengan cepat menguasai Afghanistan ?

Taliban muncul seiring dengan penarikan pasukan Soviet dan runtuhnya rezim komunis Afghanistan serta kehancuran tatanan sipil di negara tersebut. Nama Taliban berasal dari bahasa Pashto yang artinya murid. Anggota kelompok Taliban memang sebagian besar terdiri dari siswa di madrasah yang didirikan untuk pengungsi Afghanistan pada 1980-an di Pakistan utara. Taliban muncul pada 1994 sebagai kekuatan yang menginginkan ketertiban sosial di provinsi selatan Afghanistan, Kandahār. Pada akhir tahun 1996, kekuatan Taliban membesar karena dukungan dari kelompok etnis Pashtun di selatan Afghanistan serta bantuan dari unsur-unsur Islam konservatif di luar negeri, diantaranya dari Arab Saudi (Suni garis keras) (kontan.co.id,21/8/2021).

2001 Taliban digulingkan AS yang kemudian keduanya mengadakan kesepakatan damai di Doha dengan isi kesepakatan pertama, komitmen AS untuk menarik pasukan dan Taliban tidak melakukan serangan pada pasukan AS. Kedua, tak mengizinkan al-Qaeda atau militer lainnya untuk beroperasi di area yang dikuasainya dan melanjutkan perjanjian perdamaian nasional.

Jelas kesepakatan ini hanyalah alasan Amerika, sebagai negara pengusung kapitalisme terbesar, tak mungkin mudah menyerah begitu saja, meskipun memang secara pendanaan AS menderita banyak kerugian terkait pengiriman pasukan ke Afganistan, berdasar kajian Universitas Brown pada 2019, APBN AS terbebani dengan pembiayaan misi militer selama di Afganistan, yaitu US$978 Milliar (BBC.com, 17/8/2021).

Amerika akan mengusahakan bagaimana berdamai dengan Taliban namun tetap menguasai Afganistan. AS saat ini jelas hanya mengubah manuver kebijakannya, dari hard power ke soft power. Siapapun tak mengelak, Afganistan adalah surga kekayaan alam yang luar biasa, AS terlalu lama meninabobokan Afganistan dalam perang sehingga tak ada waktu untuk mengeksplorenya. Mana bisa jiwa kapitalismenya diam?

Afganistan memang negara termiskin di dunia, meskipun dalam perut buminya diyakini ada deposit SDA mineral 14.000 T. Rod Schoonover, ilmuwan dan pakar keamanan, pendiri Ecological Future Group, mengatakan selain besi, tembaga, emas, di dalam perut bumi Afganistan juga mengandung mineral tanah jarang (rare earth mineral) dan deposit lithium terbesar di dunia . Juga mengandung logam mulia langka yang dibutuhkan untuk perekonomian abad 21, yaitu peralihan ke mobil listrik dan teknologi bersih untuk memangkas emisi karbon.

Namun sayang, Afganistan juga menjadi negara nomor satu tak aman, sehingga tak memungkinkan adanya eksplorasi. Sementara melimpahnya SDA bak gula mengundang datangnya semut, kapitalis timur, Cina bahkan sudah lebih dulu bernegoisasi dengan Taliban untuk bersama-sama mengelola kekayaan bumi Afganistan. Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia, Yon Machmudi, pun menganggap kekayaan sumber daya itu dapat menjadi pintu masuk untuk China ke Afghanistan. “Dengan adanya kemungkinan rezim baru, Taliban dan China sudah bernegosiasi untuk membicarakan investasi sumber daya Afghanistan yang memang cukup besar. Itu bisa menjadi pintu masuk,” ujar Yon. “Walaupun SDM Afghanistan sangat rendah, tapi itu bisa dipenuhi dengan SDM-SDM dari China untuk masuk dan melatih mereka, misalnya,” tambahnya pula (CNNIndonesia.com,25/8/2021).

Direktur Program China di Stimson Center, Yun Sun, dalam artikel opininya di War on the Rocks menuliskan bahwa aral dalam proyek-proyek ini sebenarnya terkait dengan ketidakstabilan politik dan ancaman keamanan. “Selama lingkungan keamanan masih belum stabil, China tampaknya tak akan meluncurkan proyek-proyek ekonomi besar di Afghanistan,” tulis Yun Sun.  (CNNIndonesia,25/8/29/2021). 

Akhirnya dapat kita lihat, dari pergantian kekuasan di Aghanistan, terungkap bahwa kekayaan SDA yang melimpahlah yang menjadi incaran perebutan oleh negara-negara Barat yang  eksploitatif. Kemunculan Cina sebagai kekuatan militer dan ekonomi di abad ini mengancam kepentingan Amerika. Orientasi Amerika terhadap Cina telah menjadi prioritas. Pernyataan para pejabat Amerika mengatakan yang demikian itu seperti yang disebutkan dalam pidato Biden pada 7 Agustus 2021, dia berkata, “Dan bahaya menjadi berada di luar Afganistan dan yang menjadi prioritas sekarang adalah persaingan strategis dengan Cina.”

Taliban sendiri kini bukan berjuang untuk Islam kaffah melainkan yang siap diajak kompromi lewat perjanjian. Fakta Afganistan pun  menjadi bukti kuatnya intervensi AS dan asing di dunia Islam, terlebih yang dimaksud sebagai mitra oleh Joe Bidden adalah negeri-negeri Muslim seperti Qatar, Turki dan Pakistan yang memancing di air keruh, menggunakan kekuasaan mereka untuk membantu kafir berhadapan dengan saudara sesama Muslim. Maka, kemenangan tak akan terwujud. Selama belum ada pihak yang mampu mengubah pola pikir dan sikap publi muslim terhadap ajaran agamanya akibat kampanye sesat kufar.

Perjuangan Taliban untuk  tegaknya Islam semestinya mencontoh metode rasulullah yang berfokus menyiapkan pemikiran Islam umat dan tidak berkompromi sedikitpun dengan tawaran Barat. Sebab semakin erat hubungan kaum Muslim dengan penjajah akan semakin memperdalam cengkeram kuku penjajahan mereka. Bahkan untuk urusan dalam negeri sendiri tak mampu mengelola, kedaulatan adalah apa yang ditetapkan PBB atau NATO yang notabene adalah kaki tangan AS juga.

Maka kini bisa kita jawab, mampukah kekayaan alam di bumi Afganistan mendukung perjuangan umat mencapai kejayaannya. Selama,  tiada junnah berupa Khilafah,  maka akan terus dicipta kondisi krisis agar fokus umat pada terjadinya konflik-konflik internal dan abai terhadap skenario perampokan SDA. Umat membutuhkan kepemimpinan Islam yang lurus, sehingga mereka sadar dan yakin bahwa agenda utama kaum Muslim adalah mengembalikan Khilafah setelah sekian lama menghilang. Hal itu merupakan kewajiban dari Allah Swt dan merupakan ketaatan kepada Rasulullah Saw.

Sekali lagi, rakyat, begitu pula para pejuang Mujahidin dimana pun berada, harus  tahu bahwa partisipasi dalam pemerintahan campuran Islam dan sekularisme tidak diterima oleh Allah Swt, karena Allah Yang Mahaperkasa hanya menerima yang baik. Dan baik itu hanya berasal dari Islam bukan yang lain. Semoga, Allah mensegerakan turunnya kemenangan bagi kaum Muslim. Wallahu a’ lam bish showab.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita