Kamis, 02 Desember 2021

Jabatan adalah Amanah, Bukan Hadiah

Jabatan adalah Amanah, Bukan Hadiah

Oleh: Rut Sri Wahyunungsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium.com-Berawal dari  berkeinginan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas untuk mengubah tagline atau logo Kementerian Agama,” Tagline Kementerian Agama itu kan ‘Ikhlas Beramal. Saya bilang, nggak ada ikhlas kok ditulis gitu, namanya ikhlas itu dalam hati, ikhlas kok ditulis, ya ini menunjukkan nggak ikhlas saya bilang,” kata Yaqut dalam webinar bertajuk Webminar Internasional Peringatan Hari Santri 2021 RMI-PBNU (detik.com,23/10/2021).

Perdebatan itu berkembang menjadi sejarah asal usul Kementerian agama. Yaqut mengatakan kemenag merupakan hadiah Negara untuk NU bukan untuk umat Islam sehingga dapat dimanfaatkan dalam jabatan di instansi. Alasannya adalah karena Kementerian agama muncul karena pencoretan 7 kata dalam piagam Jakarta. Kemudian yang mengusulkan itu menjadi juru damai atas pencoretan adalah dari pihak NU, kemudian lahirlah kementerian agama. “Nah, wajar sekarang kita minta Dirjen Pesantren, kemudian kita banyak mengafirmasi pesantren dan santri juga, saya kira wajar-wajar saja tidak ada yang salah” katanya.

Lantas ketika ada yang bertanya mengapa Kemenag mengafirmasi juga Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Yaqut menjelaskan bahwa NU umat dan jamaahnya besar, dimana-mana cenderung melindungi yang kecil. Jadi kalau sekarang Kementerian Agama menjadi kementerian semua agama itu bukan menghilangkan ke-NU-annya tapi justru menegaskan paling moderat, paling toleran dan itu menjadi background landasan cara berpikir kami di kementerian agama.

Pengamat social ekonomi dan keagamaan, Anwar Abbas mengritik pernyataan menag di atas karena tidak menghargai kelompok masyarakat lainnya. Namun , di sisi lain, menurutnya, pernyataan tersebut memberitahu public terkait banyaknya anggota NU menjabat di institusi pemerintahan,”Pernyataan ini tentu sangat-sangat kita sayangkan karena tidak menghargai kelompok dan elemen masyarakat lainnya. Tetapi ada bagusnya kehadiran dari pernyataan ini karena dengan adanya pernyataan tersebut menjadi terang benderanglah bagi kita semua warga bangsa mengapa para pejabat di Kemenag dan bahkan juga pegawainya dari atas sampai ke bawah serta juga rector-rektor UIN dan IAIN di seluruh Indonesia nyaris semuanya dipegang  dan diisi oleh orang NU,” katanya.

Tambah Anwar, “Apalagi jika pernyataan tersebut dikaitkan dengan pernyataan ketum PBNU Said aqil yang mengatakan jabatan agama kalau tidak dipegang oleh NU maka bakal salah semua. “Cara berpikir dan cara pandang seperti itu kalau kita kaitkan dengan masalah kebangsaan dan pengelolaan Negara, tentu jelas sangat naif dan tidak mencerminkan akal sehat. Semestinya sebagai seorang menteri dan pemimpin umat mereka lebih mencerminkan dan mengedepankan sikap arif serta bersikap dan bertindak sebagai negarawan. Tetapi kita lihat sang menteri dan sang tokoh tersebut lebih mencerminkan sikap sebagai seorang politisi dan lebih menonjolkan ananiyah hizbiyyahnya dimana mereka lebih mengedepankan kepentingan partai serta kelompoknya dan mengabaikan serta tidak memeperhatikan kepentingan kelompok serta elemen umat dan masyarakat lainnya, ujarnya. Sebaiknya Kemenag dibubarkan saja daripada membuat gaduh karena manfaatnya hanya dirasakan NU saja. Tandas Anwar.

Jabatan adalah amanah, bukan permainan

Rasanya bukan lagi fakta baru jika para pejabat di negeri ini menjadikan jabatannya sekadar permainan dan bukan amanah. Selain korupsi , jual beli jabatan, bagi-bagi kekeuasaan juga banyak praktik menempatkan orang pada salah satu jabatan tanpa melihat apakah kapabel atau tidak dengan pekerjaan tersebut, dan apakah orang yang ditempatkan dengan posisi tertentu (baca:pesanan) akan memikirkan rakyat atau kepanjangan tangan lagi dari peguasa yang lain atau malah pengusaha yang telah sukses membiayai perjalanan politiknya.

Sebagaimana yang dilakukan Yaqut Cholil Qoumas dalam rangka memperingati  Hari Santri 2021, dengan membuat sayembara “sehari menjadi Menteri ,’menyerahkan’ jabatannya kepada Afi Ahmad Ridlo . Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur itu akan menjalakan tugas sebagai menteri agama sehari.Penyerahan jabatan ditandai dengan penyematan pin Menteri Agama dari Yaqut Cholil Qoumas kepada Afi Ahmad Ridho, disaksikan pejabat eselon I Kemenag.”Saya meminta seluruh jajaran pejabat eselon I dan ASN Kementerian Agama dapat membantu Afi yang akan menggantikan saya hari ini,” kata Gus Yaqut usai menyematkan pin Menteri Agama kepada Afi Ahmad Ridlo (sindonews.com,21/10/2021).

Afi ini berkesempatan menggantikan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama usai menyisihkan 140 peserta lainnya dalam Sayembara Santri Sehari Menjadi Menteri.”Dengan kegiatan ini kita berharap santri ini bangkit semangatnya, bangkit kepercayaan dirinya. Pesan yang ingin kita sampaikan adalah bahwa santri itu bisa menjadi apa saja,” ungkap Gus Yaqut. “Jadi santri tidak perlu minder, tidak perlu merasa terpinggirkan karena negara juga sudah memberikan afirmasi yang luar biasa kepada para santri,” ujarnya.

“Saya mewakili semua santri Nusantara ingin menunjukkan kalau santri itu bisa. Dan kita itu punya potensi untuk memimpin bangsa. Beberapa orang memang memiliki paradigma meminggirkan pesantren. Di forum ini, saya dan teman-teman ingin membuktikan bahwa santri punya lebih dari yang kalian pikirkan,” tutur remaja kelahiran Lumajang, Jawa Timur ini. Ia juga mengajak para santri untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan negeri. “Santri kalau hanya bisa ngaji, tapi tidak bisa berbakti pada negeri, jadinya useless. Kita harus bisa memainkan peran dakwah di berbagai lini. Bukan sekedar dakwah memberikan ceramah atau tausiyah, tapi juga menjadi teladan di berbagai bidang,” paparnya.

Kekuasaan jadi permainan. Hari santri hanya dirayakan dengan aktifitas yang tak berguna, karena rasanya ironi, banyak siswa di negeri ini yang berprestasi. Baik dibidang otomotif, busana, teknologi pangan, karya ilmiah dan lainnya, namun mereka tak mendapatkan penghargaan yang tepat paling banter hasil kejeniusan mereka hanya berhenti di laboratorium atau ajang perlombaan. Tidak pernah dihubungkan dengan industri yang makin memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian Negara. Tetap saja kebijakan impor menjadi andalah pemerintah, baik bahan baku, bahan jadi maupun sumber daya manusianya dengan alasan kualitas mereka lebih terampil.

Bukankah ini sama dengan buruk muka kaca di belah. Yang seharusnya menjadi muhasabah, mengapa kita memiliki SDM lemah? Mengapa lembaga pendidikan di negeri ini tidak biasa menghasilkan output yang bagus? Mengapa kita tidak memiliki dana yang besar untuk membangun sekolah yang bagus, rumah sakit yang bias diakses semua orang karena faktanya banyak dari siswa tak sekolah karena gizi buruk dan perekonomian yang lemah. Bukankah sudah selayaknya menyandarkan seluruh kesulitan ini pada negara?

Terlebih jika kita melihat sejarah yang diperlihatkan dalam film fenomenal Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) II yang lebih fokus pada pemaparan sejarah di tahun-tahun nusantara dijajah Belanda, semua pemuda, santri, para sultan, pemuda berbagai partai seketika menghendaki adanya penegakan khilafah kembali ketika pada tanggal 3 Maret 1924 Khilafah di Turki Utsmani runtuh. Mengapa? Sebab mereka telah melihat betapa sengsaranya umat manusia ketika junnah umat itu hilang. Mereka sadar akan sangat banyak hal tidak bias terlaksana dengan baik dan benar, karena ketika junnah itu hilang otomatis umat Islam hidup dalam penjajahan negara lain. Tak hanya SDA yang dijarah, namun kebebasan dan akidah mereka, Islam diobok-obok dan dianggap radikal atau membahayakan.

Sejarah diubah demi nafsu politik menghapuskan agama, sehingga hanya kehendak manusia yang berjalan. Sekulerisasi dipilih sebagai jalan tengah. Hingga ratusan tahun ke sini keadaan kaum Muslim tak pernah membaik, pemimpinnya lebih cinta dunia dan menghamba menjadi antek dan agen kafir. Moderasi agama yang sekarang digaungkan Kemenag misalnya. Bahkan mengakui hanya partai tertentu yang benar.

Santri hari ini semestinya bergerak sefrekwensi dengan santri di masa masih dijajah Belanda, mereka menginginkan persatuan di bawah syariat Islam bukan partai. Islam tertinggi dan tak ada yang lebih tinggi dari islam, spirit itu yang harusnya terus dikobarkan, bukan challenge atau sayembara lainnya yang justru membelokkan umat dari tujuan dan persoalan terbesar umat Islam. Umat jadi samar menangkap gambaran Islam yang seharusnya mereka peluk dan yakini melebihi apapun. Sebab generasi muda adalah agen of changes yang bakal menggantikan kita generasi tua. Jika orientasi mereka kabur, bukan perjuangan penegakan Khilafah bahkan secara sadar mereka mendukung dan mensuarakan sekuler, liberalis dan pluralisme maka tak akan terwujud perbaikan, bahkan bias jadi azab Allah swt.

Islam mencetak pemimpin yang kredibel, tangguh, bertakwa dan adil

Ya! Akan sangat sulit jika kita berharap dalam sistem politik demokrasi, pemilihan pemimpin setiap 5 tahun sekali, bahkan para menterinya belum setahun sudah berkali-kali resuflle hanya menyakinan pemimpin yang menjadi pekerja partai. Ujung-ujungnya diakhir jabatan, bahkan sebagian  ketika baru menjabat, mereka tertangkap karena korupsi dan kriminal khas sekuler kapitalistik.  Sementara dalam sistem Islam, calon pemimpin harus mencakup syarat in’iqod yaitu pria, baligh, merdeka, berakal, adil, mampu melaksanakan tugasnya dan Muslim.  han Hal ini diupayakan melalui pendidikan yang dirancang berdasarkan akidah islam. Allah berfirman dalam Quran Surat An-Nisa 4:59 yang artinya,” Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian.”

Maka yang dimaksud pemimpin dalam Islam adalah mereka yang menjadikan landasan mereka berpikir dan cara pandang dalam kehidupannya adalah Allah swt dan Rasulnya, bukan partai atau kelompoknya. Sebab yang akan memintai pertanggungjawaban atas kekuasaan itu adalah Allah swt. Maka, kegaduhan ini memang tidak perlu, sebab masalah umat lebih penting. Umatlah yang harus mendapatkan pelayanan utama dari seseorang yang bersedia menjadi pemimpin.

Kita bisa meneladani salah satu khalifah, yang juga mendapatkan julukan singa padang pasir, yaitu Umar bin Khattab, pidato pada hari beliau diangkat sangatlah fenomenal,” Wahai umat manusia! Sesungguhnya aku tidak mengutus para gubernur kepada kalian untuk memukul kalian atau merampas harta kekayaan kalian.

Akan tetapi, aku mengutus mereka untuk mengajarkan kepada kalian mengenai agama dan sunnah Rasulullah saw. Maka, barangsiapa di antara kalian diperlakukan zalim, dengan perlakuan menyimpang dari tugas mereka, silahkan lapor kepadaku. Demi Dzat yang diri Umar ada di tangannya, sungguh, aku akan melakukan qishas terhadapya. Kami merindukan ketegasan pemimpin yang demikian. Wallahu a’lam bish showab.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita