Jumat, 21 Januari 2022

Caleg Milenial, Memang Perlu Atau Hanya Sekedar Pelengkap

Caleg Milenial, Memang Perlu Atau Hanya Sekedar Pelengkap

Jakarta – Sejak Pemilu Legislatif 2019 lalu potensi calon legislatif milenial atau dari kalangan pemuda mulai menyeruak kepermukaan. Sebab selama ini penghuni kursi anggota DPR maupun DPRD cenderung diisi dengan legislator senior.

Banner Iklan Swamedium

Menanggapi hal tersebut Anggota DPR RI Partai Golkar, Zulfikar Arse Sadikin mengatakan, sejak beberapa tahun lalu partainya telah mulai meregenerasi kepengurusan sejak dipimpin oleh Airlangga Hartarto.

“Golkar sudah memberi kesempatan anak muda untuk duduk di Senayan, seperti bisa kita lihat ada Meutya Hafid. Di daerah juga sama, banyak orang muda usia 40-an yang sudah jadi pengurus dan duduk di dewan,” katanya Zulfikar dalam diskusi yang bertajuk ‘Peluang Caleg Milenial dalam Pemilu 2024’, yang digelar di kantor Formappi, Jakarta, Senin (29/11/21).

Zulfikar menjelaskan jika partainya telah membuktikan bahwa kaum milenial bukan hanya sekedar pajangan. Melainkan ada peran fungsionaris partai yang telah diserahkan ke anak muda.

“Yang lebih penting parpol harus dapat mentransformasi semangat milenial, dengan tindak tanduk yang sesuai harapan milenial. Tanpa itu tak bisa,” katanya.

Dilokasi yang sama peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai, banyaknya caleg milenial belum berbanding lurus dengan pilihan milenial.

“Pada Pemilu 2019 kaum milenial ini hanya menjadi jargon yang tidak jelas lagi. Bukan tidak mungkin bisa berlanjut di Pemilu 2024 mendatang,” kata Lucius.

Kemenangan kaum milenial pada Pemilu 2019, kata Lucius, masih jauh panggang dari api. Pasalnya, banyak partai yang masih enggan mempercayakan kaum milenial untuk menjadi pengurus inti.

“Buat kita milenial bagi parpol hanya sebagai komoditas, akomodasi caleg milenial cuma tuntutan publik. Tapi apa ini menjual? Ternyata tidak,” jelasnya.

Sementara itu Jubir dan Direktur Propaganda PSI Furqan AMC mengatakan, saat ini banyak kaum milenial yang masih apatis terhadap politik. Padahal saat ini Indonesia perlu kaum milenial, untuk regenerasi perpolitikan.

“Kita tahu generasi milenial cenderung cuek dengan politik. Mungkin bawaan mereka yang independen, dan tumbuh dengan teknologi,” ujar Furqan.

PSI, diakui Furqan, merupakan partai yang DNA-nya berasal dari anak muda. Karena menurutnya, tanpa ada komitmen yang serius dari partai, pemberdayaan milenial dalam perpolitikan Indonesia hanya sekedar gimmick.

“Tanpa ada komitmen dari parpol untuk generasi milenial, saya khawatirkan (generasi milenial) hanya untuk gimmick saja,” tegasnya.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita