Selasa, 09 Agustus 2022

Terawan dan Kode Etik Kedokteran Indonesia.

Terawan dan Kode Etik Kedokteran Indonesia.

Swamedium.com

Banner Iklan Swamedium

SIWER

Sepanjang hari timeline penuh dengan berita Pak Terawan, yang baru dikeluarkan keanggotaannya dari IDI melalui Muktamar Aceh 2022. Tentu saja, sesuai ketentuan yg dipahami sebagian besar anggota IDI, Pak Terawan dikeluarkan karena pelanggaran2 tertentu yang ada dalam pasal2 yang diatur di IDI, dalam hal ini lebih tepatnya adalah Majelis Kode Etik Kedokteran Indonesia (MKEK).

Sebetulnya, pasti bukan hanya Pak Terawan yang pernah berhadapan dengan MKEK, banyak dokter yang pernah dipanggil MKEK, biasanya untuk klarifikasi hal2 tertentu terkait kompetensi, administrasi, dan etika profesi. Dan pastinya, MKEK sangat concern dengan dokter, n somehow saya meyakini, MKEK didirikan utk melindungi profesi dokter yang sangat rentan karena berhubungan langsung dengan (tubuh) manusia. Bahkan, dalam pengalaman saya sebagai anggota IDI, IDI selalu hadir membantu para dokter yang dalam profesinya bermasalah dengan hukum. Beberapa sejawat dengan ikhlas dan tulus, mengambil sekolah hukum agar bisa melindungi teman2nya yg mungkin “disandungkan” dengan masalah hukum.

Dikeluarkannya Pak Terawan sebagai anggota IDI, sudah melalui proses yang sangat panjang. Sebagai seorangg neurolog, more or less saya memahami masalah Pak Terawan ini. Dikeluarkannya Pak Terawan dari IDI, bukan hal tiba2 dan sewenang2, apalagi dilakukan oknum2 yg mendendam sebagimana yg dituduhkan seorang wakil rakyat terhadap IDI, (sampai minta polisi periksa segala).

Mungkinn Pak Terawan adalah seorang tokoh yang didukung banyak orang kaya dan berkuasa. Sehingga ada banyak pembelaan untuk Pak Terawan, yang datang dari orang2 kaya dan berkuasa itu. Seolah2 Pak Terawan adalah korban dan IDI adalah tukang jagal. Masalah Pak Terawan, yg an sich adalah soal kompetensi dan etika profesi, masuk ke wilayah politik secara membabi buta. Orang2 berkomentar, seolah2 paham dengan etika profesi dlm menjalankan praktek kedokteran.

Anehnya, pembela Pak Terawan ini, diam seribu bahasa ketika puluhan ribu dokter yang melayani garis depan lini kesehatan, dihargai dengan semena2 oleh sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia, selama bertahun2, meski IDI sudah berteriak2 meminta keadilan untuk para dokter pekerja garis depan ini. Mugkin itulah bedanya antara somebody n anybody.

Di tengah kontroversi yg dibesar2kan atas pemecatan Pak Terawan sebagai anggota IDI, saya menyatakan SALUT pada Ikatan Dokter Indonesia. Yg meski dihujat, tetap maju melangkah. Meski Pak Terawan didukung para jenderal, para penguasa, para orang kaya, IDI tidak takut. IDI tetap pada pendiriannya, maju, serbu, terminasi. Keren! Kita dukung IDI utk mempertahankan etika dalam profesi dokter, karena etika dlm profesi dokter itu, justru adalah untuk menyelamatkan pasien sendiri. Kita dukung IDI yg berani, adil, dan bermarwah.

Maju terus Ikatan Dokter Indonesia, Veritas, Probitas, Justisia!

(Pinjam semboyan UI, rasanya pas utk kasus ini).(RKH, 280322)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita