Selasa, 28 Juni 2022

Asing Makin Lancang Lecehkan Negeri Muslim Terbesar

Asing Makin Lancang Lecehkan Negeri Muslim Terbesar

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium.com

Massa Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (Perisai) demo menuntut Singapura minta maaf usai deportasi Ustaz Abdul Somad di Kedubes Singapura, Jakarta. “Kami Perisai patuh dengan aturan yang berlaku di Republik ini namun sangat disayangkan bilamana permintaan kami tidak direspons,” kata koordinator lapangan aksi, Muhammad Senanatha (detik.cok, 22/5/2022).

Senanatha menyebut penolakan UAS merupakan bentuk diskriminasi bagi warga Indonesia. Dia mengatakan tidak dikabulkannya tuntutan Perisai bakal memicu munculnya aksi dari kelompok lain pendukung UAS. Belum usai urusan UAS, Kedutaan Besar Inggris di Jakarta berulah dengan sengaja mengibarkan bendera pelangi LGBT.

Anggota Komisi VIII DPR Bukhori Yusuf memprotes dan meminta Pemerintah Indonesia tidak membiarkan setiap perwakilan asing melecehkan norma dan nilai yang berlaku di negara ini. “Mereka harus berhenti mempromosikan LGBT dan menunjukkan itikad baik untuk menghormati nilai dan norma yang berlaku di tengah masyarakat Indonesia,” tegas Bukhori.

Bukhori mengatakan konstitusi telah menegaskan Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945, sehingga agama telah menjadi ruh dan sumber nilai dari pandangan hidup masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Paham LGBT dapat diterima di barat, karena cara pandang negaranya yang liberal dan sekuler. Namun jangan lecehkan negara ini dengan memaksakan paham itu kepada masyarakat kita. Selain bertentangan dengan konstitusi, hal itu tidak sejalan dengan kaidah moral dan agama masyarakat Indonesia yang religius,” terangnya.

Sekulerisme Lahirkan Liberalisme

Memang menjadi tanda tanya besar, sebagaimana yang disampaikan Bukhori Yusuf, UUD 1945 di pasal 29 telah menjelaskan bahwa negara Indonesia adalah negara berketuhanan. Yang semestinya menjadi ruh dan sumber nilai dari pandangan hidup. Namun ulama dihinakan demikian pula perilaku menyimpang penyebab bencana fisik dan sosial yang terus dikampanyekan tak ada sedikit pun pembelaan.

Setiap ada persoalan selalu rakyat diminta kembali kepada UUD 1945, namun realnya seperti apa tak satu pun pejabat pemerintahan mampu mencontohkan. Artinya, pasal-pasal dalam UUD 1945 hanyalah slogan. Sementara yang diambil secara praktis negara ini adalah kebijakan berasas sekuler. Memisahkan agama dari kehidupan. Padahal sekulerismelah yang melahirkan liberalisme, faham kebebasan yang memfasilitasi nafsu manusia dalam menyelesaikan persoalannya.

Pemerintah sepatutnya mengevaluasi beragam kebijakannya agar kewibawaan di mata asing bisa menguat. Karena fakta pennolakn UAS dan pengibaran bendera LGBT oleh asing menegaskan perendahan mereka terhadap negeri Muslim terbesar ini. Semua terjadi karena pemerintah sendiri tidak menampakkan sikap tegas menentang LGBT dan menunjukkan penghormatan pada ulama.

Islam Memuliakan Ulama dan Menolak Ide Kufur

Ulama adalah pewaris para nabi. Dengan keilmuannya yang luas dan teladan kepribadiannya akan sangat dibutuhkan dalam menjaga konsistensi keimanan dan ketakwaan umat Islam pun para pejabatnya. Pada masa Khalifah masih memimpin kaum Muslim, mereka selalu berdekatan dengan para ulama. Keputusan mereka untuk setiap persoalan tidak pernah dilalui tanpa sebelumnya ada diskusi.

Sebut saja penakluk Konstantinopel, Muhammad al Fatih, ayahnya menunjuk Syekh Ahmad ibn Ismail al Kurani, seorang ulama yang paham sekali dengan Alquran sebagai guru Muhammad Al Fatih. Maka, Al Fatih kecil tumbuh sebagai sosok yang bertakwa, cerdas dan penuh kasih sayang kepada sesama Muslim. Ketegasannya bisa dilihat dari bagaimana ia mengupayakan usaha membobol benteng tak terkalahkan.

Kelembutannya memukau rakyat Konstantinopel yang berkumpul di gereja Hagia Sofia, tak ada pembunuhan atau pengusiran. Bahkan hak mereka, darah, harta berikut nyawa negara menjamin sepenuhnya. Demikian pula kebijakan pembayaran pajak ditiadakan. Setiap futuhad ( pembebasan) yang dilakukan kekhilafahan sejatinya bukan untuk menjajah apalagi eksploitasi kekayaan semata, melainkan membuka pembatas fisik dari mereka yang menginginkan Islam sementara penguasanya menolak.

Apapun warna kulit, derajat pangkat berbeda tak membedakan Kholifah dalam memberikan periayaahan. Nation state atau negara bangsa yang hari ini menghancurkan silah ukhuwah memang dibuat oleh kafir untuk menjadikan kaum Muslim terpecah, individualis dan tak ada amar makruf nahi mungkar. Dengan begitu mereka bebas menghegemoni setiap jengkal tanah kaum Muslim, mengoyak akidah mereka dan menggantinya dengan kebebasan tanpa batas.

Terlebih kepada ulama, tentulah perlakuan negara akan lebih protektif, dari ulamalah kan lahir generasi cinta Allah dan RasulNya. Bersama ulamalah negara mengawal setiap pemikiran yang bertentangan dengan  syariat. Salah satunya LGBT. Ketegasan azab Allah SWT terkait kejinya perbuatan mereka terekam di dalam Alquran, yaitu kisah kaum Nabi Luth.

Tak ada toleransi, apalagi kampanye masif hingga didanai oleh PBB, organisasi dunia manifestasi persatuan bangsa-bangsa. Sebab sekali Allah SWT mengharamkan perbuatan itu, selamanya haram, apapun alasannya. Mereka hanya melihat dari sisi kapitalisasinya, dengan alasan kehidupan mereka adalah bagian dari hak asasi manusia, sementara dampak fisik dan sosial mereka abaikan.

Bagaimana rusaknya institusi keluarga, banyaknya penyakit ganas yang belum ada obatnya hingga hari ini, seperti misalnya HIV/AIDS dan penyakit seksualitas lainnya. Demikian pula rusaknya generasi muda , para perempuan dan bahkan masa depan negara itu sendiri yang akan dipertaruhkan. Lantas, masihkah meletakkan kepercayaan kepada sekulerisme untuk sebuah perubahan yang benar?

Penghinaan terhadap syariat Islam yang mulia ini, dengan seenaknya mengibarkan bendera LGBT ini, berikut kampanye yang masif tidak akan selesai hanya dengan kecaman, namun dengan kekuatan yang sama kuatnya, yaitu sistem Islam. Sejarah telah membuktikan bagaimana ketika Islam memimpin peradaban dunia. Tak ada yang berani berkutik, sebab ketegasan para Khalifahnya dan sanksi yang tidak main-main,  telah cukup membuat para kaum kafir itu berpikir 1000 kali.

Inilah pekerjaan rumah yang tertuju pada pundak-pundak kaum muslim untuk mewujudkan Junnah (perisai) yang akan melindungi kemuliaan dan kesejahteraan hakiki, Wallahu a’lam bish showab.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita