Selasa, 28 Juni 2022

Kiblat Kemajuan ke Korea, Bagaimana Dengan Dunia Islam?

Kiblat Kemajuan ke Korea, Bagaimana Dengan Dunia Islam?

Swamedium.com
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Banner Iklan Swamedium

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia bisa menjadi negara maju seperti Korea Selatan (Korsel). Namun ada syarat utam yang harus dipenuhi untuk mencapai itu yaitu memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Inilah yang saat ini fokus diperbaiki oleh pemerintah.

“Jadi melalui nonton itu Anda melihat oh Korsel maju ya, gedungnya tinggi-tinggi, infrastruktur bagus. Nah Indonesia bisa dan memiliki potensi besar untuk terus mengejar kemajuan itu. Namun salah satu syaratnya adalah produktivitas manusia,” ujarnya dalam Rakornas Kemendagri, Kamis (16/6). Bendahara negara ini menyebutkan untuk mencapai SDM yang berdaya saing dan hebat, pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang begitu besar melalui pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial.

Anggaran pendidikan setiap tahunnya ditetapkan sebesar 20 persen dari total belanja APBN. Tahun ini untuk pendidikan tercatat sebesar Rp621,3 triliun. Lalu, anggaran kesehatan ditetapkan sebesar 5 persen dari total belanja APBN. Namun, pada tahun ini alokasi anggaran kesehatan naik 9,4 persen menjadi Rp255,3 triliun karena covid-19. Bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun seperti saat munculnya pandemi covid-19, pemerintah tidak mengurangi sedikitpun anggaran di tiga sektor tersebut. Justru malah ditambah seperti untuk kesehatan dan jaminan sosial. Tiga sektor inilah yang menurut Sri Mulyani sangat mempengaruhi kualitas SDM.

Pendidikan Berkualitas bukan Soal Dana saja

Pendidikan bukan sekadar penyiapan dana di APBN, tapi butuh strategi yang baku terkait kurikulum dan sarana dan prasarana. Sebab, faktanya, meskipun anggaran ada namun nasib pendidikan di Indonesia seperti jalan di tempat. Mahal, sering berganti kurikulum, menetapkan PPDB ( Pendaftaran Peserta Didik Baru) berbasis zonasi, namun tak setiap kecamatan atau desa ada sekolah yang masuk dalam zonasi yang dimaksud.

Bahkan kurikulum baru yang akan diterapkan Kemendikbud ristek yaitu fokus pada pembentukan Profil Pemuda Pancasila yang memuat beberapa nilai seperti kebhinekaan global lebih mengarah kepada penghilangan identitas sejati anak bangsa. Sebab mereka diminta lebih menerima perbedaan, dengan cara bekerja sama dalam sebuah kelompok kerja. Dan dimanifestasikan dalam kegiatan produksi, dengan alasan kelak, anak mampu secara mandiri menyelesaikan persoalannya. Terutama jika berkaitan dengan ekonomi.

Belum lagi guru dan tenaga pendidikan yang lebih banyak diisi oleh tenaga honorer, yang kini terancam dihapus dengan adanya surat keputusan terbaru kemendagri. Kesejahteraan belum pasti, menjadi pengangguran di depan mata pasti. Padahal, biaya hidup kian mahal, terlebih biaya pendidikan. Sangat-sangat membebani walimurid. Kalaulah ada sekolah murah, tentu kualitasnya seadanya. Ada beasiswa atau pertukaran pelajar, namun lebih sering sebagai wasilah cuci otak anak didik.

Banyak dari mereka yang lulusan luar negeri memiliki moral absurd alias liberalisme, menyamakan Islam dengan agama lain, mengunggulkan toleransi dan terutama mengadakan permusuhan dengan Islam, padahal mereka Muslim. Yang terparah, mereka menjadi corong sekulerisme, menyeru kebebasan dalam segala hal dan menjauh dari Islam dalam posisinya sebagai pedoman hidup. Mereka bersahabat jika Islam hanya eksis di pojokan mengatur ibadah individual. Sedangkan terhadap ajaran Islam seperti jihad, terutama kepada asing seketika melempem.

Kemajuan sebuah bangsa tentu sangat didukung oleh pendidikan generasinya. Namun Islam menambahkan dengan aspek lainnya, seperti ekonomi, kesehatan dan keamanan. Sebab, pendidikan sejatinya yang pertama didapat di dalam institusi keluarga. Maka dalam pandangan Islam, negaralah pihak yang bertanggungjawab menyelenggarakan pendidikan sepenuhnya.

Kemajuan sebuah bangsa juga dipengaruhi oleh cara pandang bangsa itu. Atau biasa disebut ideologi. Setiap ideologi mengandung akidah dan peraturan. Faktanya tidak setiap ideologi itu positif. Contoh nyata, hari ini negara-negara di dunia memakai ideologi kapitalisme, dimana landasannya adalah sekuler. Dimana agama dipisahkan dari kehidupan. Sehingga meski negara itu memiliki kemajuan teknologi namun manusianya berperilaku menyimpang, penyuka sesama jenis, memilih zina daripada menikah dan lainnya sebagai wujud kebebasan individu, salah satu perilaku yang paling melekat pada pengusung kapitalisme. Terlebih ada perlindungan negara berupa Hak Asasi Manusia (HAM).

Lantas, apakah Korea lebih baik dari negara-negara di dunia saat ini? Tidak, terlebih Korea cenderung ateis dengan tidak mengutamakan satu agama tertentu. Budaya Korea bisa dilihat dari setiap suguhan film dan drakornya yang mendunia, selalu bergenre cinta, kalaulah trailher selalu menyempatkan nilai percintaan, sek bebas, dan transgender. Bukan apa-apa, Korea pun penganut liberalis yang sekaligus kapitalis.

Islam Lahirkan Manusia Berkualitas Pendukung Negara Maju

Sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar, seharusnya yang menjadi kiblat pendidikan adalah peradaban Islam itu sendiri. Apakah ada? Tentu ada, sayang, hari ini begitu massif dikampanyekan oleh barat berikut penguasa bonekanya di negeri-negeri Muslim sebagai monster, sarang lahirnya terorisme radikalisme, penghancur negara, dan lainnya. Khilafah, satu peradaban cemerlang, diawali dengan tegaknya negara Islam di Madinah, dimana Rasulullah Saw secara praktis menerapkan syariat Islam Kaffah, setelah beliau wafat digantikan oleh para sahabat ( Khulafaur Rasyidin) dan para Khalifah-khalifah selanjutnya hingga 1300 tahun lamanya.

Tak terhitung sumbangan peradaban Islam terhadap kemajuan dunia. Para ilmuwannya, yang disebut polymat karena menguasai beberapa disiplin ilmu, termasuk ilmu agama seperti fikih, hadist, shirah dan lainnya. Mereka mendedikasikan hidup dan keilmuannya demi kemaslahatan umat, sebab mereka paham hal yang demikian bagian dari perintah Allah. Demikian pula Rasulullah Saw bersabda,”Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).

Lantas, bagaimana mungkin secara keni penguasa menghubungkan dengan istilah-istilah paksa yang sumbernya saja bukan dari Islam. Hari ini pun Khilafah tidak ada, namun terus menerus dikambing hitamkan, bagaimana dengan LGBT, korupsi, OKB Papua, seks bebas, kesenjangan sosial dan berbagai kerusakan lainnya? Apakah itu karena Khilafah? Inilah bukti rendahnya literasi kaum Muslim, sehingga tak bereaksi ketika ajaran agamanya dilecehkan bahkan dituduh pembuat onar.

Negara, sebagai wakil dari kaum Muslim dalam penerapan syariat Islam, sangat memahami hal krusial itu sehingga penghargaan terhadap ilmuwan dan ilmu sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya universitas dibangun yang buktinya masih bisa kita lihat hari ini. Negara Khilafah menggratiskan pendidikan, memenuhi sarana dan prasarana dengan kualitas terbaik. Semua dibiayai Baitul mal, tidak sedinar atau sedirham pun melalui utang atau pun investasi asing.

Hanya Islam yang mampu mewujudkan kemajuan hakiki sebuah peradaban. Dilandasi dengan akidah, semua penguasa Muslim ketika melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Jabatan dan kekuasan bukan sebagai target sebagaimana dalam kapitalis hari ini, namun amanah yang kelak di hari penghisaban akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda,”Siapa saja yang diamanahi oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu mati dalam keadaan menipu rakyatnya, niscaya Allah mengharamkan surga atas dirinya” (HR Muslim). Berapa kali setiap pemilu seorang calon pemimpin memberikan janjinya untuk memperbaiki keadaan? Apakah semua terbukti? Mari melihat lebih jernih lagi, penguasa amanah hanya lahir dari sistem Islam. Wallahu a’lam bish showab.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita