Jumat, 05 Agustus 2022

Nabi Dihina, Islam Lemah Tanpa Khilafah

Nabi Dihina, Islam Lemah Tanpa Khilafah

Protes atas Penghinaan Nabi Muhammad

Swamedium.com
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Banner Iklan Swamedium

Kepolisian India mengumumkan, bentrokan antara umat Hindu dan Muslim di India timur memakan korban dua remaja. Bentrokan ini buntut dari pernyataan menghina yang dilakukan pejabat Bharatiya Janata Party (BJP) kepada Nabi Muhammad SAW. Polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan kekerasan di kota Ranchi di negara bagian Jharkhand. Hanya saja tidak jelas apakah penyebab kedua korban terbunuh oleh polisi atau oleh perusuh (Republika.co.id, 12/5/2022).

Kaum Muslim hanya ingin memprotes penghinaan atas Nabi mereka, namun lebih sering berubah menjadi kekerasan antara umat Hindu dan Muslim. Dan Indonesia pun hanya bisa mengecam India atas pernyataan pejabatnya karena “Islamofobia”. “Indonesia mengutuk keras pernyataan yang merendahkan Nabi Muhammad SAW oleh dua politisi India. Pesan ini telah disampaikan kepada Duta Besar India di Jakarta,” cuit akun Twitter resmi Kemenlu, dikutip CNBC Indonesia (CNBC Indonesia, 7/6/2022).

Tanpa Khilafah, Penghinaan Kepada Nabi Terus Berlangsung

Sebelumnya pernyataan Juru Bicara Partai Bharatiya Janata (BJP), Nupur Sharma di sebuah televisi nasional. BJP adalah partai asal Perdana Menteri (PM) Narendra Modi. Pernyataan Nupur Sharma dalam sebuah debat di televisi disebut menghina Nabi Muhammad SAW.

Negara kecil tanpa daya lebih banyak mengecam, sedang negara yang lebih besar, seperti negara-negara Arab, tak hanya mengecam, bahkan hingga muncul aksi boikot produksi Negeri Bollywood tersebut. Sejumlah media setempat melaporkan boikot produk-produk India. “Pusat perbelanjaan besar di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain menghapus produk India,” cuit South Asia Index.

Arab Saudi melalui pernyataan resmi kementerian luar negeri menyebut pernyataan para pejabat India menghina. “Meminta penghormatan terhadap kepercayaan dan agama,” tulis kementerian dikutip AFP. Demikian pula dengan Qatar. Bahkan negara itu juga menuntut India meminta maaf atas komentar “Islamofobia” ketika Wakil Presiden India Venkaiah Naidu saat datang mengunjungi negara itu untuk meningkatkan perdagangan. Demikian pula Kuwait pun bereaksi.

Setiap pemimpin berbicara sendiri, mewakili negerinya. Padahal, persoalan penghinaan Nabi ini adalah persoalan global. Bukan hanya untuk Indonesia saja, atau negeri-negeri di Arab saja, melainkan dimanapun berada, setiap jiwa seorang Muslim wajib tergetar hatinya dan merasa marah. Dahulu, saat Kaum Muslim memiliki Junnah atau perisai yaitu Khilafah, jangankan menghina berulangkali, pemerintah Perancis ingin menayangkan sebuah drama teater dimana didalamnya ada unsur penghinaan kepada Nabi, seketika itu Khalifah Abdul Hamid II menolak keras, dan mengancam jika tetap dilanjutkan akan pecah perang.

Siapapun tak bisa menutup mata, bagaiamana kekuatan tentara Muslim ketika kewajiban jihad diserukan. Bukan kematian yang mereka takutkan, namun saat ruh melayang dan mereka belum membunuh satupun musuh, atau setidaknya telah termasuk dalam kelompok mereka yang berperang. Sebab, mati syahid adalah tujuan daripada hidup namun dibawah kuasa kekufuran.

Bukan kali ini saja pemerintah India berulah, Islamophobia kian mendapatkan tempat, pelajar Muslimah baru-baru ini menerima tekanan luar biasa hanya karena mereka memakai jilbab lengkap saat ke sekolah. Pernikahan berdasar syariat digugat dan lain sebagainya. Seolah Muslim adalah biang kerok persoalan di India.

Kapitalis Sekuler Pangkal Islamphobia

Penghinaan berulang terhadap kehormatan Islam dan kaum muslim tak terelakkan, terutama penghinaan terhadap Rasulullah terus berulang di sistem sekuler. Pemimpin negeri Muslim hanya mampu mengecam. Tanpa pernah berani tegas mengerahkan tentaranya yang luar biasa. Mengapa? Karena sejatinya kekuatan mereka telah tersekat oleh ide nasionalisme yang berakar dari kapitalis sekuler. Mereka tunduk kepada kekuatan lebih besar, lebih takut ancaman tak dihargai sebagai negara oleh dunia jika terlalu berpihak kepada Islam.

Sedangkan negara-negara yang lebih besar melakukan beragam tindakan protes dan boikot. Apakah berhasil? Jelas tidak mampu hentikan kecuali oleh negara yang berbasis syariat dan memiliki kekuatan menggentarkan rezim Hindu radikal di India. India hari ini berbeda keadaan dengan saat dipimpin oleh Dinasti Mughal yang secara fakta dalam periodisasi sejarah Islam dikenal sebagai masa kejayaan kedua setelah kejayaan Dinasti Abbasiyah.

Peradaban Islam mulai tumbuh dan menyebar di anak benua India pada masa Khalifah al-Walid dari Dinasti Bani Umayyah melalui ekspedisi yang dipimpin panglima Muhammad bin Qasim. Saat itu, imperium Islam berhasil menaklukkan seluruh kekuasaan Hindu dan mengislamkan sebagian masyarakat India pada 1020 M. Muncullah dinasti Mughal dengan penerapan syariatnya, dan dikenal unggul di bidang Militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat. Di bidang ekonomi adalah memajukan pertanian, terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau, dan kapas. Di pemerintahan membentuk lembaga khusus untuk mengatur masalah pertanian.

Dinasti Mughal juga banyak memberikan sumbangsih di bidang ilmu pengetahuan. Sejak berdirinya banyak ilmuwan yang datang ke India untuk menuntut ilmu. Bahkan, istana Mughal pun menjadi pusat kebudayaan. Hal ini terjadi karena ada dukungan dari penguasa, bangsawan, dan ulama. Dan jelas, sistem yang diterapkan dalah Islam. Yang selama ini berusaha dideskriditkan seolah sistem yang dalam ilmu fikih dikenal sebagai khilafah adalah sesuatu yang buruk.

Penjajah barat sangat paham bagaimana posisi mereka dihadapan Khilafah, sehingga berusaha sekuat tenaga mengaburkan gambaran kejayaan umat manusia di bawah pimpinan kekhilafahan. Inilah alasannya mereka memilih pemimpin boneka yang hanya tunduk dan patuh kepada mereka, yang siap melanjutkan hegemoni kapitalisme, faham yang dibawa para penjajah itu. Meski faktanya tak pernah bisa memberi keadilan dan kesejahteraan.

Di Bawah Syariat Islam, Penghinaan Akan Berakhir

Jatuhnya korban puluhan muslim terluka dan 2 pemuda syahid seharusnya menguatkan dorongan Muslim bersatu membangun kekuatan politik Islam (khilafah). Nyawa dalam Islam, terutama nyawa orang beriman lebih berharga dari dunia dan seisinya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw berikut, Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda,“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Allah SWT berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah: 32).

Hentikan penghinaan Nabi dengan mengembalikan penerapan syariat Islam. Dimana selama 1300 tahun telah terbukti menjadi mercusuar peradaban. Mengeluarkan manusia dari zaman kebodohan, berpikir jahiliyah dan senantiasa mengadakan pengrusakan. Tidak ada perjuangan tertinggi hari ini bagi setiap pribadi Muslim selain berjuang sekuat tenaga mengembalikan Junnah kaum Muslim tegak kembali. Wallahu a’lam bish showab.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita