Selasa, 09 Agustus 2022

Islam Mampu Wujudkan “Anak Terlindungi dan Indonesia Maju” Bukan Sekadar Tema Tahunan

Islam Mampu Wujudkan “Anak Terlindungi dan Indonesia Maju” Bukan Sekadar Tema Tahunan

Swamedium.com

Banner Iklan Swamedium

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Tema peringatan hari anak tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Ini bukan tema baru, sebab sudah digunakan sejak dua tahun yang lalu pada Hari Anak Nasional tahun 2020. Diharapkan dengan tema ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan anak-anak. Karena anak-anak adalah harapan masa depan bangsa, menjaga kesehatan anak-anak juga berperan penting pada masa depan Indonesia.

Berdasarkan Konvensi Hak Anak (KHA) yang disahkan dan disetujui ke dalam Keputusan Presiden No 36 Tahun 1997, terdapat 10 Hak Mutlak Anak, dua di antaranya adalah hak mendapatkan pendidikan yang layak dan hak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, tanpa diskriminasi.

Nyatanya, masih banyak anak yang belum bisa menikmati hak pendidikan dan kesehatan. Sistem zonasi yang baru saja diselenggarakan untuk Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) justru menimbulkan kekacauan. Hingga ada satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sriwedari 197, di Kota Solo, Jawa Tengah yang hanya mempunyai satu murid baru. Sementara sekolah lain over kapasitas.

Sekolah favorit tetap menjadi primadona, sebab, selain tempatnya strategis, sarana dan prasarana lengkap, tenaga pengajar berkualitas dan setiap tahun output di terima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tinggi. Tak sedikit orangtua yang menggunakan pintu belakang hanya supaya anaknya bisa masuk di sekolah tersebut.

Demikian pula dengan pilihan sekolah Islam, dengan kurikulum lebih banyak materi ajar Islam, seperti bahasa Arab, Fikih, Hadis, Shirah Nabawi dan pembiasaan belajar mengajar dengan adab Islam juga masih menjadi primadona, harga mahal tak soal, daripada ngeri melihat buruknya kualitas anak di luar yang kerap tawuran, zina, narkoba, miras, dan lain sebagainya meski masih terdaftar sebagai pelajar.

Tak salah bila setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk pendidikan anaknya. Namun, bak jauh panggang dari api. Sekolah mahal, hingga mashyur pomeo, anak miskin dilarang pintar. Akibat lanjutannya adalah bertambahnya angka anak putus sekolah, sebab pendidikan kian tak teraih rakyat kebanyakan.

Laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan, ada 75.303 orang anak yang putus sekolah pada 2021. Jumlah anak yang putus sekolah di tingkat sekolah dasar (SD) merupakan yang tertinggi sebanyak 38.716 orang (katadata.co.id). Pandemi makin memperparah jumlah anak yang terpaksa putus sekolah karena membantu perekonomian keluarga.

Belum lagi dengan kurikulum yang terus berganti, padahal yang lama belum menunjukkan hasil. Makin digubah makin tidak jelas ke arah mana tujuan sebenarnya pendidikan generasi ini. Kurikulum terbaru adalah kurikulum merdeka dengan unggulan program Penguatan Pelajar Pancasila (P3), dengan tujuan menjembatani loss learning selama pandemi karena pembelajaran online dan karena kriminalitas remaja kian marak. Perlu ada penguatan karakter dan itu mengarah pada Pancasila.

Bagaimana dengan perlindungan anak? Kebijakan yang ada justru secara masif menghapus perlindungan total terhadap anak. Dalam tujuh bulan di tahun 2022 saja kasus pemerkosaan anak, bullying, pelecehan, pembuangan bayi akibat seks bebas, zina dan lain sebagainya kian marak. Pelakunya secara kebetulan yang diviralkan dari kalangan pondok pesantren. Wadah pendidikan lama, yang bernafas Islami. Meski bisa dipastikan ada settingan blow up untuk menutupi kasus yang lebih besar namun tak bisa juga diabaikan.

Lantas bagaimana masa depan fashion show di kawasan SCBD yang makin hari makin marak, karena berdatangan para tokoh dan selebritas tanah air yang meramaikan seolah merestui kemunduran berpikir generasi muda. Atas nama kebebasan berperilaku dan kreatifitas tanpa batas, anak-anak dari pinggiran kota Jakarta, seperti Bojong Gede, Bekasi, Citayam dan lainnya mencoba mengais rezeki menjadi konten kreator dadakan.

Sebut si Bonge yang bukan nama sebenarnya, profil anak yatim piatu mantan pengamen yang kini menjadi ikon utama di kawasan Sudirman, bersama Jeje, Kurma Roy dan jangan lupa, anak-anak laki-laki yang jelas tanpa basa-basi mengatakan penyuka sesama jenis. Ingin cari pemuda yang berduit dan bisa menjadi kesayangannya. Apakah begini profil pemuda harapan bangsa? Krisis identitas dan tak memiliki visi misi hidup yang jelas.

Mereka rata-rata putus sekolah dan memang tak ingin sekolah karena biaya mahal, luluspun belum tentu mendapat pekerjaan. Inilah, potret buram anak-anak Indonesia, begitu pula yang menimpa semua anak di negeri-negeri Muslim. Mereka dimiskinkan, dirusak dan dihinakan oleh sistem yang sedang diterapkan, yaitu kapitalisme liberal yang azasnya adalah sekuler. Mindset mereka hanya materi, materi dan materi dan abai dengan masa depan hakiki yaitu akhirat.

Anak menjadi korban langsung maupun tidak langsung sistem sekuler kapitalis. Anak menjadi korban kemiskinan sistemik, korban bullying, korban Kekerasan seksual dan lain-lain. Anak juga menjadi korban penanganan pandemik yang salah karena mengabaikan cara Islam dalam penanganannya.

Islam Bukan Sekadar Tuntunan Ibadah

Semestinya, saat peringatan Hari Anak Nasional bukan berhenti pada seremoni perhatian, dukungan dan perlindungan yang diberikan diberikan secara simbolik. Sebab hal itu meskipun dilakukan setiap tahun namun tidak berkorelasi dengan akar persoalan mengapa anak-anak Indonesia bahkan dunia tak sejahtera. Namun inilah tabiat asli kapitalis demokratis, yang hanya pandai dengan politik tambal sulam. Ketika rakyat banyak protes, maka penguasa akan bertindak.

Berbeda dengan sistem Islam yang jelas-jelas mampu menjamin anak-anak akan maju dan terlindungi hak-haknya, sebab anak adalah generasi penerus bangsa. Di tangan mereka kelak peradaban ini akan maju atau terpuruk, bila tidak kita persiapkan dari sekarang dengan sistem yang solid dan shohih kapan lagi? Sebab Islam bukan sekadar berisi aturan untuk ibadah, melainkan pedoman hidup dan solusi bagi setiap persoalan manusia.

Semua ini berakar pada penerapan sistem kapitalisme yang akarnya adalah sekulerisme atau memisahkan agama dari kehidupan. Agama, terutama Islam hanya dipelajari oleh individu sedangkan ketika mereka berada di ranah umum diberi pilihan untuk membuat aturan sendiri. Pendidikan yang sekuler kapitalistik telah sukses menelorkan output rapuh dan tidak memiliki visi dan misi yang jelas. Mereka hanya melihat dunia sebagai ajang bersenang-senang. Padahal bagi seorang Muslim, kehidupan di dunia amat sangat menentukan kehidupan akhirat.

Dalam Islam, azas pendidikan adalah akidah Islam. Sedang tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia berkepribadian Islam, yang tak hanya terdepan dalam sain dan teknologi tapi juga peduli pada maslahat umat dan bermanfaat sebesar-besarnya terhadap pemenuhan kebutuhan umat.

Rasulullah Saw bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari). Artinya, negara tidak sekadar berfungsi sebagai regulator dan fasilitator kebijakan, namun operator yang menjamin seluruh kebutuhan dasar umat terpenuhi, dari mulai sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan.

Terlebih urusan kesejahteraan anak, adalah hal yang tak boleh luput dari tanggungjawabnya. Dengan kas Baitul Mal yang didapat dari harta kepemilikan umum , kepemilikan negara dan zakat yang dikelola negara dan dikembalikan untuk maslahat umat, baik dalam bentuk benda seperti listrik, air minum, BBM maupun dalam bentuk pembangunan fasilitas umum seperti jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, masjid dan lainnya.

Lapangan pekerjaan juga akan dibuka seluas mungkin, sebab banyak dari pengelolaan barang tambang oleh perusahaan negara, tidak diserahkan asing atau swasta. Sehingga negara bisa mendapatkan hasil sebesar-besarnya dari hasil pengelolaan tersebut. Tidak mudah didikte oleh asing, karena tidak bergantung pada impor kebutuhan pokok kepada negara lain. Walhasil, kehidupan menjadi seimbang sebab di danau dengan dana yang berkah, mandiri dan sesuai syariat.

Negara juga akan melindungi generasi dari racun konten-konten yang merusak akidah, menggantinya dengan materi penguatan dan pemahaman terhadap Islam, agar tersuasanakan keimanan yang mampu menjaga ketakwaan, sehingga setiap individu bisa produktif amal salih. Maka wajar di masa kejayaan Islam, banyak orang yang dengan keilmuannya berlomba-lomba beramal salih, menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak.

Generasi yang didik dan tumbuh dalam suasana Islam sebagai sistem, adalah ilmuwan polymath sekaligus hamba Allah yang sangat takut azab neraka. Negara menjamin mereka seratus persen hingga tak ada hambatan bagi negara untuk maju sebagai negara ula ( Adi daya) dan berdaulat , hal ini tak akan muncul jika kapitalisme sekuler masih menjadi tonggak sistem pengaturan, melainkan harus Islam . Wallahu a’lam bish showab.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita